Seperti dibahas pada
warta yang lalu berjudul “Apakah Alam Semesta dan Kita Benar-benar Ada?”
bahwa keberadaan alam semesta ini beserta kita di dalamnya adalah hasil
persepsi kita atas informasi dari alat sensor di tubuh yang bernama
panca indra. Bentuk alam semesta ini sebenarnya tidak pernah diketahui
oleh kita, karena pengetahuan kita akan bentuk alam semesta sebatas
hasil pengindraan tadi.
Tetapi ada yang aneh dengan persepsi
manusia terhadap bentuk dan kejadian di alam ini, yakni persepsi semua
orang relatif sama. Sebagai contoh dalam kejadian sehari-hari, beberapa
orang sedang menyaksikan sebuah acara televisi yang menayangkan seorang
artis penyanyi. Semua penonton bersepakat bahwa nama artis tersebut
adalah si anu, berjenis kelamin wanita, pakaian yang dikenakannya
berwarna merah bergaris-garis, suaranya serak dan wajahnya
cantik. Kalaupun ada perbedaan pendapat biasanya hanya sebatas
kualitasnya, seperti warna merah bajunya terlalu tua dan yang lain
bilang merahnya agak gelap, atau kecantikan tidak sempurna karena
bibirnya terlalu lebar dan sebagainya – ini bisa terjadi karena
kemampuan alat pengindraan dan cara pandang yang berbeda. Tetapi pada
prinsipnya semua sepakat dalam beberapa hal seperti telah disebutkan
sebelumnya.
Satu lagi contoh mengenai kejadian di alam. Semua
orang relatif sama persepsinya bahwa langit mendung akan turun
hujan. Apabila hujan turun maka tanah dan lain-lain akan basah terkena
air. Kemudian air akan menyuburkan tanaman – pohon mangga misalnya, lalu
pohon tersebut akan tumbuh baik, berbunga dan berbuah. Dan semua orang
ternyata sepakat tentang rasa buah mangga apakah asam atau manis.
Kedua
cerita di atas menimbulkan pertanyaan: kenapa persepsi semua orang bisa
relatif sama terhadap wujud benda dan kejadian di alam semesta
ini? Apakah yang menjadi penyebab persepsi itu bisa sama? Apakah
kesamaan persepsi itu kebetulan belaka?
Tidak ada kebetulan, yang ada adalah ketetapan
Kita semua pasti sudah mengetahui tentang hukum alam (natural law) sebuah istilah lain yang digunakan sarjana-sarjana Barat untuk istilah hukum Allah (sunatullah) yang digunakan para ilmuwan Islam. Hukum inilah yang dijadikan dasar dalam penciptaan dan pengelolaan alam semesta.
Menurut
keyakinan sebagian ilmuwan fisika, keberadaan hukum alam bersamaan
dengan kejadian awal terciptanya alam semesta pada waktu ledakan besar
pertama (teori Big Bang). Jadi sebelum ada alam semesta, hukum-hukum itu
belum ada.
Tetapi saya berpandangan hukum-hukum itu ditetapkan
oleh Tuhan sebelum alam semesta diciptakan. Logika sederhanya adalah
pembuat kue tidak akan membuat kue sebelum menetapkan takaran
bahan-bahan kue di dalam sebuah resep masakan. Jadi hukum alam itu sudah
ditetapkan kemudian dijadikan dasar penciptaan dan proses kejadian alam
semesta selanjutnya.
Dua faktor penyebab persepsi manusia yang sama terhadap alam semesta
Ada dua kemungkinan faktor penyebab yang membuat persepsi semua orang sama terhadap keberadaan dan bentuk alam semesta, yakni:
1. Faktor pengetahuan tentang hukum alam
Seperti
telah disebutkan di atas bahwa hukum alam itu diciptakan sebelum
penciptaan alam semesta. Hukum-hukum alam tersebut dijadikan dasar
penciptaan dan juga proses kejadian alam selanjutnya. Diibaratkan alam
semesta ini adalah sebuah komputer raksasa, maka hukum-hukum alam tadi
sudah diinstal ke dalam alam semesta. Software hukum alam tadi
akan memproses kejadian-kejadian di alam semesta sehingga semua proses
kejadian selalu mematuhi ketentuan hukum-hukum tadi.
Demikian juga
halnya dengan penciptaan manusia. Karena tubuh manusia juga diciptakan
sesuai dengan hukum alam – dan manusia memang bagian dari alam semesta –
maka hukum alam tadi juga diinstalkan ke tubuh manusia. Tempat yang
mungkin untuk itu adalah otak. Jadi sesungguhnya manusia sudah memiliki
pengetahuan tentang hukum alam secara lengkap dan sempurna di dalam
otaknya.
Keterangan di atas bisa menjelaskan bagaimana proses
belajar bisa terjadi, apakah dengan membaca buku, menerima penjelasan
orang lain, melihat kejadian alam atau menerima ilham. Membaca buku,
menerima penjelasan orang lain dan melihat kejadian alam yang dilakukan
seseorang untuk memperoleh ilmu pengetahuan adalah proses membandingkan
apa yang dilihat di luar dirinya dengan hukum alam yang sudah diinstal
di otak tadi. Mengerti dan memahami suatu pengetahuan adalah hasil akhir
dari pencocokan realita yang dilihat dengan informasi hukum alam di
otak. Jadi pengetahuan bukan datang dari luar masuk ke dalam otak, tapi
sudah ada di dalam tapi belum dicocokkan dengan realita. Sedangkan
pengetahuan yang diperoleh melalui ilham – tanpa melalui proses belajar –
hukum-hukum yang telah diinstal di otak tadi akan muncul ke bagian otak
yang memberikan gambaran dan memunculkan persepsi tanpa perbandingan
dengan realita.
Begitu juga dengan proses mempersepsi wujud benda
di alam semesta. Pada cerita para penonton televisi di atas, hukum-hukum
alam di otak mereka masing-masing mengenai spektrum warna (untuk wana
baju), struktur dan bangun tubuh (untuk pengenalan pribadi, jenis
kelamin, kecantikan dan jenis suara) adalah sama. Karena alat indrawi
mereka juga sama, maka hasil persepsi mereka terhadap objek yang sama
menjadi sama. Sedikit perbedaan persepsi mungkin terjadi disebabkan ada
faktor lain seperti buta warna, mata rabun, menggunakan kaca mata
berwarna, sedang mabuk minuman keras dan lain sebagainya, sehingga
fungsi alat indra, kelancaran proses menghantarkan sinyal-sinyal listrik
di syaraf ke otak dan proses pengolahan informasi di otak bisa
terganggu.
2. Faktor pengetahuan tentang kejadian alam semesta
Ada
perbedaan pandangan yang sangat prinsip di kalangan ilmuwan mengenai
kejadian alam semesta. Kelompok penganut faham materialisme berpandangan
bahwa alam semesta statis dan berdiri sendiri. Sedangkan kelompok
penganut faham kreasion meyakini alam semesta diciptakan, berawal dan
berakhir. Walaupun mereka tidak mengetahui siapa yang menciptakan,
bagaimana keadaan sebelum penciptaan dan apa yang terjadi sesudah
kehancuran alam semesta.
Tapi kita tidak akan membahas perbedaan
kedua pandangan tersebut. Kita akan membahas pandangan kaum spiritualis
dan agamis – terutama kalangan sufisme – yang berpendapat bahwa kejadian
penciptaan alam semesta ini sudah selesai. Mereka berkeyakinan bahwa
dari kejadian awal hingga kehancuran alam semesta ini, termasuk juga
dimensi akhirat sebagai alam lain setelah dunia menurut keyakinan
spiritualis dan agamis, sudah selesai. Jadi menurut keyakinan mereka
manusia dan seluruh isi alam sedang menjalani kehidupan yang sebetulnya
sudah selesai dalam pengetahuan Tuhan.
Informasi kejadian alam
semesta dari awal hingga selesai itulah yang diinstal ke otak
kita. Namun tidak mudah menggalinya, karena bukan pengetahuan siap
pakai. Informasi itu hanya sebagai alat untuk mencocokkan persepsi kita
terhadap alam.
Kemajuan sains di masa sekarang sedang mengembangkan sebuah teknologi bernama virtual reality. Teknologi
ini berupa sebuah alat yang bisa memberikan gambaran kejadian berupa
program komputer melalui kejutan-kejutan listrik ke otak. Game komputer yang menggunakan teknologi virtual reality akan membuat si pemain seperti berada di dalam dunia nyata, bisa merasakan sakitnya pukulan bahkan bisa berdarah dan mati.
Sehubungan dengan teknologi virtual reality tersebut ada sebuah pendapat ekstrim yang mengatakan bahwa hidup kita di dunia ini adalah sebuah program virtual reality
milik Tuhan yang sudah diinstalkan ke otak kita. Jadi kita sedang hidup
di dalam dunia maya yang kita anggap sebagai sebuah dunia nyata!
Kenapa Persepsi Semua Orang Tentang Alam Semesta Bisa Sama?
20.40 |
Read User's Comments(0)
PENILAIAN
23.38 |
PENILAIAN
Standar Kompetensi
2. memahami
sistem dalam kehidupan tumbuhan
Kompetensi Dasar
2.2.
mendeskripsikan proses perolehan nutrisi dan transformasi energi pada tumbuhan
hijau
KOGNITIF
No
|
Indikator
|
Pertanyaan
|
Jawaban
|
N
|
I
|
L
|
A
|
I
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
||||
1
|
Siswa dapat mendiskripsikan bagian daun yg berperan dalam proses
fotosintesis
|
Apa yang dimaksud dengan fotosintesis dan dimana proses terjadinya
fotosintesis?
|
Proses pembuatan makanan pada tumbuhan hijau. Foto sintesis terjadi
pada daun, di mesofil.
|
|||||
2
|
Siswa dapat melakukan percobaan uji amilum pada daun
|
Setelah ditetesi lughol warna apa yang timbul pada bagian daun yang
tidak terkena cahaya matahari? Membuktikan apakah hal tersebut?
|
Coklat terang. Menunjukkan bahwa daun tersebut tidak memproses bahan
makanan.
|
Keterangan :
Skor 5 : Jawaban Benar
Skor 4 : Jawaban Benar tetapi kurang rinci
Skor 3 : Jawaban mendekati benar
|
Skor 2 : jawaban salah
Skor 1 : Jawaban salah / menulis kembali pertanyaan.
|
PSIKOMOTORIK
Nama :
Kelas / Smt :
No. Absensi :
NO
|
KRITERIA
YANG DINILAI
|
SUDAH
MENGUASAI
|
BELUM
MENGUASAI
|
1
2
3
4
5
|
Memilih alat dan bahan secara
tepat
Merangkai alat percobaan alat
secara benar
Mengumpulkan data secara objektif
Memperhatikan keselamatan kerja
Merumuskan kesimpulan berdasarkan
data
|
RPP IPA FOTOSINTESIS KLS VIII/II . PLPG UM 2012
18.14 |
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Sekolah : MTs NURUL HUDA PULE-TRENGGALEK
Mapel : IPA
Kelas / Smt : VIII / II
Alokasi Waktu
: 1 X 40 Menit
STANDAR KOMPETENSI
2. Memahami sistem dalam kehidupan
tumbuhan
KOMPETENSI DASAR
2.2. Medeskripsikan sistem dalam
kehidupan tumbuhan
A. INDIKATOR
Ć Mendiskripsikian
bagian daun yang berperan dalam proses foto sintesis
Ć Melakukan uji
coba amilum pada daun
B. TUJUAN
PEMBELAJARAN
Ć Siswa dapat
menjelaskan bagian daun yang berperan dalam proses fotosintesis melalui
informasi dari media Audio Visual ( Power Point )
Ć Siswa dapat
mendeteksi Amilum ( Zat Makan ) pada tumbuhan melalui praktikum uji amilum
C. MATERI
PEMBELAJARAN
Ć Proses perolehan
nutrisi dan transformasi energi pada tumbuhan hijau
D. METODE PEMBELAJARAN
Ć Metode : Diskusi, Informasi,
Eksperimen
Ć Model Pembelajaran
: Student Teams Achivement Division
( STAD )
E. LANGKAH –
LANGKAH PEMBELAJARAN
a. Kegiatan Awal
Ć Berdoa
Ć Menertibkan dan
memeriksa kerapian siswa
Ć Bertanya kepada
siswa “ apa yang kalian ketahui dengan daun? “
Ć Menjelaskan
media yang digunakan untuk melihat apa yang dihasilkan dari fotosintesis.
b. Kegiatan Inti
1) Eksplorasi
Ć Siswa
mendeskripsikan bagian daun yang berperan dalam proses fotosintesis
Ć Siswa
menjelaskan apa yang dihasilkan dari proses fotosintesis
2) Elaborasi
Ć Siswa melakukan
percobaan / praktikum uji amilum pada daun dengan petunjuk guru.
Ć Siswa membuat
laporan hasil praktikum
3) Konfirmasi
Ć Guru memberikan
jawaban tentang hal-hal yang belum diketahui siswa
Ć Guru sebagai
narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan siswa
c. Kegiatan Penutup
Ć Bersama-sama
dengan peserta didik membuat rangkuman dari hasil percobaan, baik secara lisan
maupun tulisan.
F. MEDIA
PEMBELAJARAN
Ć Alat dan bahan
(terlampir)
G. SUMBER
PEMBELAJARAN
Ć (terlampir)
H. PENILAIAN
Ć (terlampir)
INOVASI PEMBELARAN SAINS (IPA)
22.51 |
BAB I
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan pilar utama untuk meniti masa depan.
Pendidikan sebagai upaya untuk membangun sumberdaya manusia memerlukan wawasan
yang sangat luas, karena pendidikan menyangkut aspek kehidupan manusia, baik
dalam pemikiran maupun dalam pengalamannya. Pengkajian pendidikan tidak cukup
hanya dengan hasil suatu penelitian secara ilmiah, namun dibutuhkan pengkajian
yang lainnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa pengkajian ilmiah merupakan suatu
keharusan karena akan mengungkapkan fakta-fakta yang berkaitan dengan
pengalaman manusia yang berkaitan dengan pendidikan.
Pendidikan adalah hidup. Pendidikan adalah segala pengalaman
belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup. Pendidikan adalah segala situasi hidup yang
mempengaruhi pertumbuhan individu. [1] pendidikan adalah usaha
sadar yang dilakukan pemerintah, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan
atau latihan, yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah sepanjang hayat.,
untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat memainkan peranan dalam berbagai
lingkungan hidup secara tepat di masa yang akan datang. Pendidikan adalah
pengalaman-pengalaman belajar terprogram dalam bentuk pendidikan formal, non
formal, dan informal di sekolah yang berlangsung seumur hidup yang bertujuan
optimalisasi.
Pelaksanaan pendidikan di indonesia pada dasarnya telah
dikembangkan sedemikian rupa dengan menganut dan mengembangkan azaz demokrasi
dalam pendidikan. Pelaksanaannya telah diatur dalam perundang-undangan yang
berlaku di indonesia yakni, pasal 31 UUD 1945; (ayat 1 dan 2 ) , UU Sisdiknas
nomor 20 tahun 2003 tentang wajib
belajar ; (ayat 1 dan 3 ) ,UU Sisdiknas nomor 20 tahun 2003 tentang pendidik dan tenaga kependidikan pasal 39
ayat 2 serta pasal 40 ayat 2/c. [2]
Komponen-komponen utama proses pendidikan adalah belajar,
berfikir, mengingat, dan pengetahuan. Empat istilah ini tidak dapat dipisahkan
dari proses pendidikan. Membahas masalah pendidikan, tidak lepas dari satu hal
yaitu belajar. Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan
berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu.
Belajar adalah suatu proses
yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku baru
secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam
berinteraksi dengan lingkungan. Belajar adalah perubahan dalam kepribadian yang
dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk ketrampilan
sikap, kebiasaan, pengetahuan, dan kecakapan.
Salah satu dari komponen pendidikan adalah mengajar. Disini makna
dari mengajar mencakup definisi yang
luas, maka saya membuat kesimpulan bahwa mengajar adalah memasuki dunia siswa
untuk mengubah persepsi dan perilaku
mereka. Mengutip dari pernyataan Sarah Singer dalam bukunya Bobbi DePorter “ keyakinan guru akan potensi manusia dan kemampuan semua anak
untuk belajar dan berprestasi merupakan suatu hal yang penting diperhatikan.
Aspek-aspek teladan mental guru berdampak besar terhadap iklim belajar dan
pemikiran pelajar yang diciptakan guru. Guru harus memahami bahwa perasaan dan
sikap siswa akan terlibat dan berpengaruh pada proses belajarnya” menurut Sarah Singer siswa menangkap pandangan
anda lebih cepat dan akurat daripada mereka menangkap apa yang anda ajarkan.
Jalinan rasa simpati dan saling pengertian dapat menarik
keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar. Jalinan ini akan membangun
jembatan menuju kehidupan siswa yang bergairah, membuka pintu kesuksesan mereka,
dan mengetahui minat-minat mereka. Jalinan rasa simpati kita kepada mereka
memudahkan kita menagtur mereka dan meningkatkan kegembiraan.
Salah satu komponen pendidikan yang keberadaannya sangat krusial
yaitu strategi pembelajaran. Ada beberapa strategi yang pernah diterapkan dalam
pembelajaran sains yakni Direct Instruction, Discusión, Group Work ,Co-operative
Learning , Problem Solving , Student
Research, Performance
Activities dan masih banyak lainnya.
Disini penulis mencoba untuk berbagi pengalaman memberi inovasi
pembelajaran kepada anak didik dengan menekankan Teori Multiple Intelegensi.
Berikut teori yang dikemukakan oleh Dr. Howard
Gardner :
“ Linguistic and verbal
intelligence: good with words, Logical intelligence:
good with math and logic, Spatial intelligence:
good with pictures, Body/movement intelligence: good with
activities, Musical intelligence: good with rhythm, Interpersonal intelligence: good with communication, Intrapersonal intelligence: good with analyzing things, Naturalist intelligence: good with understanding
natural world “.
Karya Tulis ini akan membahas mengenai
Inovasi Pembelajaran Sains ( IPA ) Dengan Menggunakan Teori Multiple
Intelegensi yang akan dipaparkan pada pembahasan Bab II, semoga Karya
Tulis ini dapat memberikan pemahaman yang lebih lanjut bagi kita tentang Multiple
Intelligences dalam mengembangkan inovasi pembelajaran.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN MULTIPLE
INTELEGENSI
Berawal dari sebuah pernyataan Dr. Howard Gardner
“I
want my children to understand the world, but not just because the world is
fascinating and the human mind is curious. I want them to understand it so that
they will be positioned to make it a better place. Knowledge is not the same as
morality, but we need to understand if we are to avoid past mistakes and move
in productive directions. An important part of that understanding is knowing
who we are and what we can do... Ultimately, we must synthesize our
understandings for ourselves. The performance of understanding that try matters
are the ones we carry out as human beings in an imperfect world which we can
affect for good or for ill. (Howard Gardner 1999:
180-181)
Inti dari pernyataan tersebut adalah bahwa beliau menginginkan
anak-anaknya bisa memahami dunia
sehingga dunia akan memberikan tempat terbaiknya.
Kecerdasan (intelegensi) adalah kemampuan untuk melakukan
abstraksi, serta berpikir logis dan cepat sehingga dapat bergerak dan
menyesuaikan diri terhadap situasi baru. Kemampuan kognitif, psikomotor, dan
afektif yang dimiliki seseorang disebut dengan kecerdasan. Howard Garder
mendefinisikan kecerdasan sebagai :
1.
Kemampuan memecahkan
masalah yang muncul dalam kehidupan nyata.
- Kemampuan melahirkan masalah baru untuk dipecahkan.
- Kemampuan menyiapkan atau menawarkan suatu layanan yang bermakna dalam kehidupan kultur tertentu.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan
adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki seseorang. Kemampuan-kemampuan yang
dimiliki seseorang tidak akan semuanya sama dengan kemampuan-kemampuan yang
dimiliki orang lain, karena kemampuan banyak jenisnya (beranekaragam), dan
keanekaragaman dari kemampuan-kemampuan itu disebut dengan kecerdasan majemuk
(multiple intelegens).
Pada dasarnya setiap kurikulum menitik beratkan pada pencapaian
suatu kompetensi tertentu peserta didik. Pendekatan Multiple
Intelligence pun memandang bahwa seseorang/manusia memiliki beberapa
potensi kecerdasan. Salah satu dari kecerdasan setiap peserta didik itulah yang
harus dikembangkan, sehingga pada akhirnya menjadi suatu kompetensi yang sangat
dominan dikuasainya.
B.
MACAM – MACAM MULTIPLE
INTELEGENSI
Multiple Intelegensi adalah Kecerdasan majemuk, yang merupakan
keanekaragaman kemampuan yang menyangkut beberapa bidang. Kecerdasan tersebut
merupakan modalitas untuk melejitkan kemampuan setiap siswa dan menjadikan
mereka sebagai sang juara, karena pada dasarnya setiap anak cerdas.
Teori Multiple Intelligence ini dikembangkan oleh Gardner,
dengan mendeskripsikan delapan
kecerdasan manusia atau pada umumnya disebut sebagai kecerdasan majemuk
yang dimiliki oleh semua anak didik, yang mana kedelapan kecerdasan itu bisa
dikembangkan dalam inovasi pembelajaran sains.
- Linguistic Intelligence ("word smart")
( Kecerdasan Linguistik ) kemampuan untuk berpikir dalam bentuk
kata-kata dan menggunakan bahasa untuk mengekspresikan dan menghargai makna
yang kompleks. umumnya memiliki ciri antara lain
(a) suka menulis kreatif, (b) suka mengarang kisah khayal atau menceritakan
lelucon, (c) sangat hafal nama, tempat, tanggal atau hal-hal kecil, (d) membaca
di waktu senggang, (e) mengeja kata dengan tepat dan mudah, (f) suka mengisi
teka-teki silang, (f) menikmati dengan cara mendengarkan, (g) unggul dalam mata
pelajaran bahasa (membaca, menulis dan berkomunikasi).
- Logical-Mathematical Intelligence ("number/reasoning smart")
(Kecerdasan Logika-Matematika) merupakan kemampuan dalam
menghitung, mengukur, dan mempertimbangkan proposisi dan hipotesis, serta
menyelesaikan operasi-operasi matematis. Pada
umumnya anak-anak yang memiliki kecerdasan ini mempunyai kegemaran, yakni: (a)
menghitung problem aritmatika dengan cepat di luar kepala, (b) suka mengajukan
pertanyaan yang sifatnya analisis, misalnya mengapa hujan turun?, (c) ahli
dalam permainan catur, halma dsb, (d) mampu menjelaskan masalah secara logis,
(d) suka merancang eksperimen untuk membuktikan sesuatu, (e) menghabiskan waktu
dengan permainan logika seperti teka-teki, berprestasi dalam Matematika dan
IPA.
- Musical Intelligence ("music smart")
( Kecerdasan Musik ) jelas terlihat pada seseorang yang memiliki
sensitivitas pada pola titinada, melodi, ritme, dan nada. Misalnya pada seorang
komposer, konduktor, musisi, kritikus, dan pembuat alat musik juga pendengar
yang sensitif. Ciri-ciri dari anak yang memiliki kecerdasan ini adalah (a) suka memainkan alat musik di rumah atau di
sekolah, (b) mudah mengingat melodi suatu lagu, (c) lebih bisa belajar dengan
iringan musik, (d) bernyanyi atau bersenandung untuk diri sendiri atau orang
lain, (e) mudah mengikuti irama musik, (f) mempunyai suara bagus untuk
bernyanyi, (g) berprestasi bagus dalam mata pelajaran musik.
- Spatial Intelligence ("picture smart")
( Kecerdasan Spasial ) membangkitkan kapasitas untuk berpikir
dalam tiga cara dimensi seperti yang dapat dilakukan oleh pelaut, pilot,
pemahat, pelukis, dan arsitek. Kecerdasan ini memungkinkan seseorang untuk
merasakan bayangan eksternal dan internal, melukiskan kembali, merubah, atau
memodifikasi bayangan, dan menghasilkan atau menguraikan informasi grafik. Anak
didik yang mempunyai kemampuan ini cenderung akan (a)
memberikan gambaran visual yang jelas ketika menjelaskan sesuatu, (b) mudah
membaca peta atau diagram, (c) menggambar sosok orang atau benda persis
aslinya, (d) senang melihat film, slide, foto, atau karya seni lainnya, (e)
sangat menikmati kegiatan visual, seperti
teka-teki atau sejenisnya, (f) suka melamun dan berfantasi, (g) mencoret-coret
di atas kertas atau buku tugas sekolah, (h) lebih memahamai informasi lewat
gambar daripada kata-kata atau uraian, (i) menonjol dalam mata pelajaran seni.
- Bodily-Kinesthetic Intelligence ("body smart")
( Kecerdasan Kinestik-Tubuh ) memungkinkan seseorang untuk
menggerakan objek dan keterampilan-keterampilan fisik yang halus. Misalnya
kelihatan pada diri atlet, penari, ahli bedah, dan seniman yang mempunyai
keterampilan teknik. Anak-anak kita yang mempunyai kecerdasan ini (a) banyak bergerak ketika duduk atau mendengarkan
sesuatu, (b) aktif dalam kegiatan fisik seperti berenang, bersepeda, hiking
atau skateboard, (c) perlu menyentuh sesuatu yang sedang dipelajarinya, (d)
menikmati kegiatan melompat, lari, gulat atau kegiatan fisik lainnya, (e)
memperlihatkan keterampilan dalam bidang kerajinan tangan seperti mengukir,
menjahit, memahat, (f) pandai menirukan gerakan, kebiasaan atau prilaku orang
lain, (g) bereaksi secara fisik terhadap jawaban masalah yang dihadapinya, (h)
suka membongkar berbagai benda kemudian menyusunnya lagi, (i) berprestasi dalam
mata pelajaran olahraga dan yang bersifat kompetitif.
- Interpersonal Intelligence ("people smart")
( Kecerdasan Interpersonal ) merupakan kemampuan untuk memahami
dan berinteraksi dengan orang lain secara efektif. Hal ini terlihat pada guru,
pekerja sosial, artis, atau politisi yang sukses. Tetapi kecerdasan ini pun
juga dimiliki oleh anak didik kita, yakni (a)
mempunyai banyak teman, (b) suka bersosialisasi di sekolah atau di lingkungan
tempat tinggalnya, (c) banyak terlibat dalam kegiatan kelompok di luar jam
sekolah, (d) berperan sebagai penengah ketika terjadi konflik antartemannya,
(e) berempati besar terhadap perasaan atau
penderitaan orang lain, (f) sangat menikmati pekerjaan mengajari orang lain,
(g) berbakat menjadi pemimpin dan berperestasi dalam mata pelajaran ilmu
sosial.
- Intrapersonal Intelligence ("self smart")
( Kecerdasan Intrapersonal ) merupakan kemampuan untuk membuat
persepsi yang akurat tentang diri sendiri dan menggunakan pengetahuan semacam
itu dalam merencanakan dan mengarahkan kehidupan seseorang. Misalnya terlihat
pada ahli ilmu agama, ahli psikologi, dan ahli filsafat. Anak yang memiliki
kecerdasan ini akan terlihat, antara lain (a)
memperlihatkan sikap independen dan kemauan kuat, (b) bekerja atau belajar
dengan baik seorang diri, (c) memiliki rasa percaya diri yang tinggi, (d)
banyak belajar dari kesalahan masa lalu, (e) berpikir fokus dan terarah pada
pencapaian tujuan, (f) banyak terlibat dalam hobi atau proyek yang dikerjakan
sendiri.
- Naturalist Intelligence ("nature smart")
( Kecerdasan Naturalis ) anak-anak yang mepunyai kecerdasan ini
memiliki ciri antara lain: (a) suka dan akrab pada berbagai hewan peliharaan,
(b) sangat menikmati berjalan-jalan di alam terbuka, (c) suka berkebun atau
dekat dengan taman dan memelihara binatang, (d) menghabiskan waktu di dekat
akuarium atau sistem kehidupan alam, (e) suka membawa pulang serangga, daun
bunga atau benda alam lainnya, (f) berprestasi dalam mata pelajaran IPA,
Biologi, dan lingkungan hidup.
Langganan:
Postingan (Atom)






